Pages

Selasa, 31 Mei 2011

SMK Negeri 2 Magetan


Bidik Akreditasi A dan SBI
SMKN 2 Magetan saat ini memiliki lima kompetensi keahlian. Yaitu Jasa Boga, Busana Butik, Kecantikan Rambut, MultiMedia, dan Teknik Komputer Jaringan. Jurusan-jurusan itu dibuka dengan pertimbangan kebutuhan di pasar kerja bagi lulusannya masih terbuka lebar.
”Kami belum akan membuka kompetensi keahlian baru lagi. Kami ingin memantapkan kompetensi keahlian yang sudah ada, terutama Teknik Komputer Jaringan yang baru dibuka tahun ini,’’ kata Pak Bambang Mulya Hartono, Kepala SMKN 2 Magetan.
Selain memantapkan jurusan yang sudah ada, Pak Bambang menargetkan pada tahun ajaran 2011/2012 kompetensi keahlian MultiMedia, Jasa Boga, Busana Butik, dan Kecantikan Rambut sudah terakreditasi A.
Tidak sampai di situ saja, Pak Bambang juga berani menargetkan pada tahun 2013 SMKN 2 Magetan sudah berstatus SBI. Untuk mewujudkannya, berbagai langkah strategis pun dilakukan. Antara lain, program tambahan pelajaran Bahasa Inggris 2 jam di luar jam pelajaran sekolah dengan instruktur dari luar.
Selain itu, membangun laboratorium bahasa untuk menunjang program English Day yang diterapkan dua hari dalam seminggu. Pun terkait SDM guru, untuk meningkatkan kemampuannya, mereka mengikuti studi banding ke sekolah bertaraf internasional. ‘’Juga menerapkan sistem manajemen mutu sesuai dengan standar ISO,’’ ungkapnya.
Di sisi lain, Pak Bambang tidak melupakan pembentukan karakter siswa. ’’Kami tekankan kepada siswa untuk disiplin, sopan santun, tertib dan memiliki enterpreneurship,’’ imbuh Pak Bambang. (*)

Unjuk Keterampilan di UPK
ADA syarat khusus bagi siswa SMK sebelum dinyatakan lulus sekolah. Yaitu, mengikuti uji kemampuan sesuai kompetensi keahlian masing-masing. Uji kemampuan ini disebut UPK (Ujian Praktik Kejuruan).
Seperti halnya UPK tahun-tahun sebelumnya, pada UPK 2011, anak-anak SMKN 2 menampilkan karya terbaik mereka.
Jurusan Busana Butik memamerkan baju pesta. ’’Karena baju pesta memiliki tingkat kesulitan tersendiri, sehingga bisa menumbuhkan kreativitas peserta didik,” ujar Bu Sukendarsih, Kakomli (Ketua Kompetensi Keahlian) Busana Butik.
Lain halnya dengan Kecantikan Rambut. Siswa unjuk keterampilan melakukan pemangkasan komersial dan penataan rambut. Salah satunya rebonding, karena sesuai dengan tren mode rambut sekarang.
Sedangkan Jurusan Jasa Boga mengolah hidangan continental dan oriental. Untuk Jurusan Multi Media, ada yang berbeda dari tahun sebelumnya. Mereka bikin film pendek dan company profile. ‘’Anak-anak sudah menguasai video shooting editing, fotografi, dan animasi. Ini sangat membanggakan. Kebetulan di Magetan baru SMKN 2 yang membuat film pendek dan company profile,’’ kata Bu Wahyuning Tyas, Kakomli MultiMedia.
Siapa pengujinya? Semua penguji UPK diambil dari dunia usaha atau industria skala nasional bahkan internasional yang memiliki sertifikat asesor lho. Hebat kan! (*)
  
Belajar Entrepreneur lewat Restomart
ADA yang baru nich. SMKN 2 Magetan sekarang sudah dilengkapi restomart lho. Apa itu restomart? Restomart adalah salah satu unit produksi (UP) sekolah kejuruan ini yang diresmikan pada 20 Desember 2010 lalu.
Restomart merupakan gabungan dari restoran dan market. So, restomart menyediakan aneka kebutuhan sehari-hari. Konsumennya pun tidak hanya siswa dan guru SMKN 2 Magetan, tapi juga warga sekitar sekolah. ‘’Selain sebagai unit produksi, restomart ini juga merupakan media pembelajaran bagi peserta didik,’’ terang Bu Partini, ketua tim pelaksana restomart.
Kata Bu Partini, lewat restomart itu anak-anak SMKN 2 Magetan diasah jiwa entrepreneurnya. Pihak sekolah sengaja memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar berdagang. Caranya dengan mengambil barang di restomart minimal Rp 50.000 setiap kali pengambilan barang. ‘’Berupa sembako, makanan ringan, dan lain-lain,’’ tuturnya.
Kemudian, barang-barang itu dijual ke warga sekitar rumah masing-masing. Setelah satu minggu sejak hari pengambilan, siswa wajib mengembalikan modal. Sedangkan laba hasil penjualan menjadi hak siswa. Wow, asyik kan! Untungnya dobel. Selain belajar entrepreneur juga dapat tambahan uang saku.
“Dengan adanya restomart, diharapkan peserta didik SMKN 2 Magetan bisa menciptakan lapangan kerja sendiri, mampu membaca peluang pasar, dan sebagai bekal berwirausaha selepas lulus,” imbuh Bu Partini,
Mau tau omzet penjualan siswa? Nah, Rita Rahayu, siswa kelas XI MM C, yang omzetnya paling gede. Bayangin, dalam satu semester saja nilai penjualannya mencapai Rp 2 juta lebih. “Banyak sekali manfaat yang aku dapat. Selain belajar berwirausaha, keuntungan hasil penjualan bisa aku gunakan buat beli aneka kebutuhan. Alhamdulillah, bisa bantu ortu,’’ tutur Rita. Nggak salah kalo cewek satu ini berniat membuka warung kecil-kecilan di rumah dan Restomart SMKN 2 Magetan sebagai suppliernya. ‘’Barang-barang yang selama ini aku ambil dari restomart laku keras, soalnya harga jualnya lebih murah dari harga pasaran,’’ katanya. (*)

Bazar Jadi Ajang Praktik Ilmu Kewirausahaan
SUASANA SMKN 2 Magetan Sabtu pekan lalu (21/5) rame banget. Soalnya, hari itu di sekolah tersebut diadain bazar. Even ini sekaligus jadi ajang bagi siswa kelas X dan XI untuk  mempraktikkan ilmu kewirausahaan. Jurusan Multimedia misalnya, buka stan pelayanan cetak dan edit foto, serta video shooting dan editing. Mereka juga melayani pembuatan desain banner, poster dan brosur.  Juga ada penayangan film pendek karya siswa kelas XII lho.
Lain lagi dengan anak-anak Jurusan Kecantikan Rambut. Mereka membuka layanan curley dan catok gratis. Sedangkan Jurusan Busana Butik menampilkan demo desain bordir, dan Jurusan Jasa Boga demo memasak masakan daerah. “Pelayanannya bagus.  Karya yang ditampilkan juga menarik dan patut dikembangkan,’’ ujar Pak Wahidin, salah satu pengunjung bazar.
Jurusan Teknik Komputer Jaringan nggak mau kalah. Mereka menyediakan browsing internet gratis, game online, dan pelayanan pembuatan jaringan komputer. ‘’Bazar ini bukan hanya untuk memperkenalkan SMKN 2 kepada siswa SMP tetapi juga masyarakat Magetan, Du/Di Prakerin, dan partner BKK (Bursa Kerja Khusus),’’ terang Bu Sunarti, ketua panitia. (*)


Pengin Jadi Master Chef
HEMMM, cewek satu ini emang bikin bangga. Udah cantik, berbakat pula. Siapa lagi kalau bukan Kartika Diana, siswa jurusan Jasa Boga SMKN 2 Magetan. Pada 7 Mei kemaren dia ikut lomba kreasi boga dan mendapat juara harapan 3. ‘’Senang, karena banyak mendapat  pengalaman baru,’’ ujarnya soal lomba yang diikutinya itu.

Cewek kelahiran Ngawi 11 September 1994 ini akan mengikuti  lomba serupa di Surabaya pertengahan Juli nanti. ‘’Aku emang hobi banget  masak. Penginnya jadi seorang master chef,’’ kata Tika-panggilan akrab Kartika Diana.
Di sekolah, Tika termasuk murid yang punya kesibukan padat. Maklum, dia aktif di berbagai kegiatan, misalnya PMR. Cewek yang akan mengikuti seleksi pertukaran pelajar yang diadain AFS  (American Field Service) ini juga tercatat sebagai wakil ketua OSIS SMKN 2 Magetan. Hebat kan! (*)

Sepatu Pantofel dan Pakai Harnet
ADA yang baru penampilan siswa SMKN 2 Magetan. Tiap hari Rabu dan Kamis mereka wajib pakai baju seragam, plus bersepatu pantofel, dan mengenakan harnet. Untuk yang berjilbab, warna jilbab disesuaikan bawahannya.
Pada awalnya memang ada sedikit kendala dalam pelaksanaanya. Tapi seiring dengan berjalanya waktu, para siswa dapat mengikuti peraturan tersebut. ‘’Ini bisa dijadikan ciri khas dari SMKN 2 Magetan,’’ kata Pak Bambang Mulya, kepala sekolah.
Penerapan aturan baru itu bukan tanpa alasan. Asal tau aja, kelak mereka saat memasuki dunia kerja kan harus berhadapan dengan banyak orang, terutama relasi atau konsumen. ‘’Ini berawal dari pengalaman praktik kerja industri dari jurusan Jasa Boga yang mewajibkan untuk berpenampilan sempurna saat serving di hotel,’’ ungkapnya.
Agar peserta didik terbiasa merawat diri agar tampil menarik dan memesona, SMKN 2  Magetan ngadain beauty class sebagai agenda tahunan. ‘’Sehingga seluruh peserta didik bisa berpenampilan menarik sesuai tuntutan dunia kerja,’’ tuturnya. (*)



Rabu, 25 Mei 2011

Bondan & Fade 2 Black Pukau Rezpector SMKN 1 Ponorogo

PONOROGO – Ratusan rezpector –sebutan fans Bondan Prakoso—kemarin (24/5) benar-benar dimanja. Respector yang mayoritas remaja putri itu diajak bernyanyi dan bergoyang bersama saat Bondan tampil bareng Fade 2 Black di Gedung Kesenian Ponorogo. 

Tidak hanya bersenandung sambil bergoyang, penonton yang didominasi siswa dan siswi SMKN 1 Ponorogo yang baru lulus tersebut juga mendapatkan motivasi dari sang idola. ‘’Jangan pernah takut bermimpi, karena mimpi itu hak kita. Jadikan kelulusan sebagai langkah awal mengejar mimpi itu,’’ teriak Bondan dari atas panggung.

Bondan bersama Fade 2 Black langsung menggebrak dengan membawakan Keroncong Protol. Kombinasi musik kalem  diselingi rap Fade 2 Black kian membuat suasana gemuruh. Ratusan pelajar SMKN 1 yang mayoritas cewek langsung merapat ke panggung.

Susana panas dalam gedung reyog tak menyurutkan mereka bernyanyi dan bergoyang mengikuti irama. Bondan tampil perkasa menghipnotis mereka. Respector tak beringsut kendati harus bermandi keringat. ‘’Kita rayakan kelulusan Smeza dengan bernyanyi dan bergoyang,’’ ajak Bondan yang berbalut jeans hijau dipadu t-shirt hitam.

Kemeriahan perayaan kelulusan Smeza akhirnya ditutup dengan lagu Sudahlah yang melejitkan nama Bondan. Lagu itu seolah menjadi motivasi bagi para siswa untuk tetap optimistis setiap kali menghadapi persoalan. ‘’Sekali lagi jangan pernah menyerah dalam menghadapi persoalan, terus maju,’’ ajak Bondan.

Sementara itu, Kepala SMKN I Ponorogo Mustari mengaku sengaja mendatangkan Bondan untuk memeriahkan pelepasan siswa kelas XII. Apalagi, prestasi siswanya tahun ini yang lulus semua dengan nilai tertinggi tingkat SMK di Ponorogo menjadi kebanggaan tersendiri. ‘’Siswa yang minta dirayakan seperti ini, dan yang penting ada nilai positifnya,’’ katanya.

Kendati penonton membeludak, konsen Bondan kemarin berjalan mulus. Kapolres Ponorogo AKBP Yuda Gustawan juga turun langsung ke lokasi untuk memantau pengamanan. ‘’Ada sekitar 100 personel yang disiapkan untuk pengamanan, baik yang terbuka maupun yang tertutup. Alhamdulillah, semua berjalan lancar dan aman,’’ terang Yuda. (dhy/hw)

Selasa, 24 Mei 2011

Giliran Bondan Prakoso & Fade 2 Black Singgah di Radar Madiun

MADIUN – Cap sebagai penyanyi cilik, diakui Bondan Prakoso kini masih melekat. Penyanyi plus musikus grup band Bondan & Fade 2 Black tidak mau ambil pusing.
Artis cilik era 1980-am yang namanya melambung saat single Si Lumba-lumba ini malah memilih berfikir positif. ’’Saya berfikir kenapa harus dihilangkan, masih untung dikenal sebagi penyanyi cilik, bukan sebagai perampok,’’ kata Bondan Prakoso, saat mengunjungi redaksi Radar Madiun, kemarin (23/5).

Bondan mengakui, kedisiplinan serta musikalitas dari sang ayah, Sisco Batara, mampu membuatnya menjadi penyanyi, musisi hingga produser seperti sekarang. Atas sentuhan sang ayah, dia bisa eksis berkarir di blantika musik Indonesia yang diawali dari nol, menjadi penyanyi cilik di usia 6 tahun. Selanjutnya, sempat vakum semasa duduk di bangku SMP. ’’Kan puber jadi suara menjadi besar sehingga vakum, tapi saya dibimbing ayah untuk belajar instrumen musik,’’ ujarnya.

Di tahun 1999 membentuk band Fungky Kopral hingga merilis tiga album. Bahkan di tahun 2003, Fungky kopral sempat berkolaborasi dengan Setiawan Jodi dengan hits Tokek. Fungky Kopral bubar, di tahun 2005 dia menyatu dengan grup rap asal Bogor Fade 2 Black. Dan, lahirlah Bondan Prakoso & Fade 2 Black yang sudah menelurkan tiga album bertajuk Respect (tahun 2005), Unity (2007) dan For All (2010). ’’Alhamdulillah masih bertahan sampai sekarang. Semua proses dijalani dengan belajar dan kerja keras,’’ papar musikus yang jatuh hati pada alat mudik bass itu.

Di era musik Indonesia sekarang, lanjut Bondan, mungkin dikenal dengan isitilah grup atau penyanyi orbitan, karbitan hingga alami. Nah, bertahan apa tidak dalam karirnya bermusik ini ditentukan dari kualitas karya. Pun, dukungan dari orang-orang di belakangnya. ’’Kalau memang alami, bisa merasakan enjoy merasakan gairah jatuh bangun dalam berkarya,’’ ujar penyanyi cilik seangkatan Agnes Monica dan Eno Lerian itu.

Bersama personel Fade 2 Black, alumnus Sastra Belanda D3 Universitas Indonesia ini berkunjung di Radar Madiun sebelum bertolak ke Ponorogo. Rencananya, hari ini, Bondan Prakoso & Fade 2 Black konser di acara SMK Negeri 1 Ponorogo.

Radar Madiun sempat meminta Bondan blak-blakan soal alasan bersedia konser di sekolah. Dia mengungkapkan, salah satu prioritas segmen Bondan Prakoso & Fade 2 Black adalah remaja. ’’Kami suka memprovokosi lewat karya-karya kami tapi dalam hal positif. Remaja itu berkembang dan mencari jati diri istilahnya hard disk-nya belum penuh,’’ jelasnya. Pesan lewat karya musik, lanjut Bondan, merupakan sarana edukasi yang tepat, ketimbang melalui pidato. (ota/irw)

MIN Demangan Kota Madiun


Wow, Sudah Bisa Bikin Robot
USIANYA masih belia, tapi siapa sangka siswa MIN Demangan Kota Madiun sudah bisa bikin robot. Salah satunya Sahrul.  Siswa kelas tiga itu mampu mebuat robot line trecer analog. Hebatnya lagi, robot itu dibuat hanya dalam waktu dua hari. 
‘’Sebelumnya butuh waktu hampir satu bulan waktu masih awam tentang robot. Ternyata bikin robot itu mengasyikkan. Senangnya lagi kalau bisa memodifikasi bentuk robot yang keren sesuai keinginan,’’ ungkap Sahrul.
Kemampuan siswa MIN Demangan membuat robot nggak lepas dari pengembangan IT bidang robotika yang mulai diterapkan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Jika tahun lalu hanya beberapa anak yang berminat, sekarang banyak siswa yang bergabung di ekskul robotika . “Melihat minat dan bakat siswa pada robotika, kenapa tidak?’’ kata Pak Hendro, guru TIK.
Kalau robot saja sudah bisa bikin, mengoperasikan komputer sudah bukan hal baru lagi bagi anak-anak MIN Demangan. Sejak kelas I siswa juga sudah dituntut bisa membuat karya dengan komputer menggunakan program aplikasi Paint, TuxPaint, Drawing for Children dan Flash untuk ujian teori mereka.
Aplikasi perkantoran seperti Ms.Publisher, Ms.Word, Power Point, Excel dan internet juga sudah diajarkan dari kelas I sampai dengan kelas IV. ‘’Sedangkan kelas V dan VI memasuki aplikasi grafis Corel Draw dan Photoshop,’’ lanjut pak guru yang merangkap menjadi wali kelas VI itu.
Apa suka dukanya mengajar robotika? ‘’Memang ketika belajar sering diiringi bercanda, yah bercanda sambil belajar. Saya harus sabar ketika mengajarkan dasar-dasar robot. Tapi saya yakin mereka dapat lebih mengembangkan lagi jika di dalam diri mereka mempunyai keinginan dan kemauan yang kuat didukung minat dan bakat mereka,’’ ungkap Mas Alim, pembina robotika.  (*)

Terapkan ISO 9001:2008
MIN Demangan Kota Madiun telah menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 lho. Yaitu standar internasional dalam pengelolaan organisasi peningkatan mutu pendidikan.  “Tentunya dalam menjalankan sistem manajemen ini kami memperbaiki segala aspek dan bagian yang sebelumnya masih belum memenuhi standar manajemen mutu, baik dari segi administrasi, infrastruktur sampai SDM yang ada,’’ kata Pak Ridwan Amana yang bertugas sebagai quality management representative.
Sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 ternyata berpengaruh pada peningkatan kedisiplinan guru.  ‘’Pemberlakuan sistem absensi guru dan pegawai  dengan cheklock dan sistem bel otomatis mendorong hadir di sekolah dan di kelas tepat waktu,” ungkap Pak Katimin, Kaur SDM.
Adanya sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 disambut positif oleh komite madrasah. Meski tidak sedikit materi yang dikeluarkan madrasah dalam implementasi pengembangan mutu ini, semuanya teratasi dengan dukungan dan kerjasama dari pihak komite madrasah dan wali murid. “Apa pun yang positif akan kami dukung sepenuhnya,’’ ungkap Pak Supiyan, ketua komite madrasah. (*)


Dari Pinggiran Jadi Rujukan
MINAT masyarakat menyekolahkan putra-putrinya ke madrasah tampaknya terus meningkat. Setidaknya itu terlihat dari jumlah murid MIN Demangan Kota Madiun yang terus bertambah dari waktu ke waktu. Empat tahun lalu, siswa sekolah ini hanya sebanyak 285, namun saat ini mencapai 692 anak. “Jumlah siswa MIN Demangan selalu meningkat signifikan dari tahun ke tahun. Bahkan, sekarang terpaksa menolak banyak pendaftar karena keterbatasan pagu yang ada,’’ kata Bu Deny Hermi, Kaur Kesiswaan.
Perkembangan jumlah siswa itu, lanjut Bu Deny, diimbangi dengan terobosan  pendidikan yang inovatif. Mulai dari strategi pembelajaran hingga sarana prasarana pendidikan.  “Sebagian besar guru telah menerapkan pembelajaran berbasis IT. Hal ini karena telah didukung adanya hotspot area dan fasilitas LCD di hampir setiap ruang kelas,’’ ungkapnya.
Selain itu, proses pembelajaran diupayakan lebih aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Seperti yang dilakukan saat ini, yakni memberlakukan metode belajar membaca Alquran sistem cepat. ‘’Dan terbukti dalam waktu 3 hingga 4 bulan, siswa mampu membaca Alquran dengan baik, meskipun berangkat dari nol,’’ tuturnya.
Dari segi sarana prasarana pun, MIN Demangan telah memiliki infrastuktur yang representative seperti laboratorium komputer, MIPA, kebun percobaan IPA, musala , UKS dan perpustakaan yang representatif. Unit UKS  MIN Demangan pernah meraih juara I lomba UKS antar madrasah tingkat Provinsi Jawa Timur tahun lalu. ‘’Untuk perpustakaan, kami sudah menggunakan pengelolaan sistem digital,’’ ungkapnya.
Bagaimana dengan prestasi non akademik? Drumband MIN Demangan yang bernama Gita Prima misalnyapernah menyabet juara I lomba tingkat SD/MI se- Kota Madiun.  Dengan barbagai torehan prestasi tersebut, tak salahj jika MIN Demangan yang meski lokasinya di daerah pinggiran, kini jadi rujukan berbagai sekolah atau madrasah di Kota Madiun dan sekitarnya. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai kegiatan studi banding oleh lembaga pendidikan dari berbagai daerah seperti Kabupatan Madiun,  Ponorogo, hingga Bojonegoro. (*)


Mencatat Hattrick
BAGI yang suka sepakbola pasti tau yang namanya hattrick. Ya, mencetak tiga gol dalam satu pertandingan.  MIN Demangan juga mencatat hattrick lho. Tapi, tentu saja bukan di lapangan hijau. Melainkan terkait pelaksanaan UASBN. ‘’Tiga tahun berturut-turut jadi masuk jajaran terbaik tingkat SD/MI se-Kota Madiun,’’ kata Pak Bambang Wiyono, kepala sekolah.
Kata Pak Bambang, pada tahun ajaran 2007/2008 nilai rata-rata UASBN MIN Demangan adalah 26,42 yang merupakan peringkat I SD/MI se-Kota Madiun. Tahun berikutnya nilai rata-rata 27,03 dan masuk peringkat II. Sedangkan tahun 2009/2010 nilai rata-rata 25,86 dan menjadi peringkat I.
Menurut Pak Bambang, prestasi itu tidak didapat dengan mudah. Melainkan butuh perjuangan. Antara lain bimbingan belajar mmulai jam 06.00 sampai jam 19.00 malam. ‘’Diimbangi dengan doa atau istighotsah bersama jauh-jauh hari sebelum UASBN atau unas. Juga kerjasama antara pihak sekolah dan wali murid kelas enam,’’ sambung bapak yang tahun lalu meraih juara I Kepala Madrasah Berprestasi Tingkat Jawa Timur ini.
Namun, padatnya kegiatan bimbingan belajar dalam menghadapi ujian itu tidak membuat siswa mengeluh. Sebab, rasa capek dan jenuh bisa dihilangkan dengan berbagai kegiatan di sela padatnya jadwal bimbingan belajar, seperti futsal, putbond, dan bermain bersama.
Bagaimana dengan hasil UASBN tahun ini? “Tentunya kami berharap anaak-anak mendapatkan nilai yang terbaik. Man jadda wajada (barang siapa bersungguh sungguh maka dapatlah ia) “. ujar Bu Deny Hermi, guru Bahasa Indonesia kelas VI. (*)


Ekskul Karawitan Diminati
TAK banyak generasi sekarang yang berminat pada seni tradisional. Tapi tidak bagi anak-anak MIN Demangan Kota Madiun. Siswa sekolah ini justru menyukai kesenian tradisional, salah satunya karawitan. “Kenapa harus malu, kan ini kesenian asli indonesia. Bahkan bisa dibilang lebih gaul dari pada anak band saat ini. Iya kan. Kalo lampu mati gimana coba, gitar listrik bisa bunyi gak? Beda dengan alat musik karawitan, lampu mati jalan terus,’’ kata Nur Hadid, siswa kelas V A yang ikut ekstrakurikuler karawitan.
Gamelan milik MIN Demangan terdiri tiga suara nada, yaitu nada pelok, slendro, dan sorok. Sedangkan instrumen yang ada tak beda dengan gamelan umumnya. Ada bonang, bonang penerus, demung, saron, gong, dan sebagainya.
Peminat ekskul karawitan di sekolah ini kebanyakan anak kelas III sampai kelas V. “Mereka belajar dengan penuh semangat meskipun masih ada anak yang salah pukul balok-balok alat ketika latihan.Maklum lah, mereka masih kecil-kecil,’’ ujar Pak Slamet Sumarsono, pembina ekskul karawitan.
Tapi jangan salah, kata Pak Slamet, daya nalar mereka lebih peka dibandingkan dengan pemain karawitan yang sudah tua-tua. Satu gending bisa mereka kuasai hanya dengan dua kali latihan. ‘’Karawitan itu bisa membentuk budi pekerti yang luhur, membangun gotong royong, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi,’’ ungkap pak guru yang juga pembina ekstrakurikuler teater ini. (*)


Lolos Final Olimpiade Sains Kuark Nasional
Pernah dengan Olimpiade Sains Kuark? Tahun ini, Naqiya Najah Husna masuk final Olimpiade Sains Kuark tingkat nasional. Naqiya ini adalah siswa kelas unggulan RMBI MIN Demangan Kota Madiun.
Prestasi itu pastinya membanggakan, Naqiya mampu menyisihkan ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Finalnya sendiri akan digelar di Jakarta pada pertengan bulan Juni mendatang.  “Meskipun masih seumur jagung, siswa kelas unggulan RMBI mampu berprestasi,’’ kata Bu Ellyn, pengurus kelas RMBI.
Menurut Bu Ellyn, untuk bisa masuk kelas RMBI tidak mudah. Calon siswa harus melalui beberapa tes. ‘’Di antaranya tes IQ dan dipilih hanya 30 anak saja,’’ tuturnya.
“Tujuan dari didirikannya kelas khusus RMBI ini adalah untuk merintis madrasah yang bertaraf internasional. Kelas ini merupakan satu-satunya dan pertama kali yang ada untuk pendidikan dasar di wilayah Kota Madiun dan sekitanya,’’ imbuh Bu Sum Hidayati, wali kelas I RMBI.
Kelas unggulan ini, lanjut Bu Sum, memiliki banyak keunggulan. Diantaranya, ruang kelas multimedia, pembelajaran untuk mata pelajaran matematika dan IPA menggunakan bilingual, serta pembelajran berbasis IT. ‘’Juga menggunakan kurikulum berbasis global untuk bahasa Inggris dan TIK,’’ ungkapnya (*)


Minggu, 22 Mei 2011

Siswa SMAN 6 Madiun Pamer Talenta

MADIUN – Giliran SMAN 6 yang menjadi lokasi road show Exmud Party 2011 Radar Madiun, kemarin (21/5). Tidak mau ketinggalan dengan sekolah lain, Smasix tampil maksimal memamerkan talenta siswa.

Setidaknya, itu ditunjukkan 13 peserta. Mulai dari penampilan biola, modern dance, modelling, bela diri, menyanyi, band akustik dan lainnya. Mereka berlomba lolos menjadi peserta Exmud Got Talent, ajang pencarian bakat yang digelar Radar Madiun di Pasaraya Sriratu, 17-19 Juni mendatang.


Rangkaian Exmud Party 2011 Radar Madiun juga akan digelar Newspaper Fashion Show, lomba kali pertama yang digelar Radar Madiun. Ajang ini untuk menampung kreativitas desain dan model dengan busana dari kertas koran.

Even wajib dalam Exmud Party Radar Madiun, adalah Mading Competition untuk pelajar SLTP dan SLTA. Se Eks Karesidenan Madun. Pun, tak ketinggalan diklat fotografi dengan pemateri Yuyung Abdi, fotografer terbaik Jawa Pos. Wartawan yang pernah tugas peliputan gelaran Piala Dunia 2010 ini direncanakan dua jam mengisi acara diklat. Selanjutnya, peserta diklat dari pelajar dan umum ini bisa hunting untuk mengikuti lomba dengan model yang ditentukan panitia.

Evan Hadi, Project Officer Exmud Party menjelaskan, semua ajang pesertanya terbatas. ’’Sehingga kompetisinya semakin ketat. Dan sudah banyak yang melakukan persiapan,’’ katanya.

Di bagian lain, Evan mengaku apresiatif atas respons pelajar SMAN 6 Kota madiun yang ketempatan road show. Khususnya, untuk mengikuti ajang Exmud Got Talent. Pelajar serasa mengerti, di Exmud Party inilah ajang sebenar-benarnya pesta kreatifitas pelajar. ’’Masih ada sekolah lain yang akan ketempatan road show Radar Madiun. Melihat peserta antusias, akhir Mei pendaftaran akan kami tutup,’’ ujarnya.

Sementara itu, babak penyisihan Exmud Got Talent di SMA Negeri 6, belasan peserta bersaing ketat. Mereka beradu kreatifitas dengan bakal yang dipunyai. Mulai, penampilan, modern dance, menyanyi dan memainkan alat musik, karate serta PBB. ’’Penampilannya bagus. Ada yang kocak alias menghibur, dan serius menunjukkan kepiawaiannya,’’ ujar Yupi Apriani, salah satu juri.

Didik Wahyu Widayat, kepala SMAN 6 mengungkapkan, Exmud Party menjadi ajang pembuktian kreatifitas pelajar. Hanya, dia berharap jadwalnya disesuaikan kalender pendidikan. ’’Dengan begitu siswa lebih konsentrasi mempersiapkan lomba,’’ ungkapnya. (rgl/irw)

Jumat, 20 Mei 2011

SMAN 5 Madiun Heboh Jelang Exmud Party

MADIUN – Gelaran road show lanjutan Exmud Party 2011 semakin heboh dan meriah. Kemarin (20/5), lokasi yang dijadikan venue adalah SMA Negeri 5 Kota Madiun. Ratusan pelajar Smala nimbrung dalam even yang diprakarsai Radar Madiun dengan support Yamaha.

Sama dengan road show di SMA Negeri 3 sebelumnya, panitia Exmud Party menghelat babak penyisihan ajang Exmud Got Talent,
ajang pencarian bakat ala Radar Madiun sebelum tanding di Pasaraya Sri Ratu 17-19 Juni mendatang. Kali ini, peserta dari ajang uji kreatifitas datang dari pelajar Smala. Patut diacungi jempol lantaran jumlah peserta dari Smala cukup membeludak. Totalnya mencapai 14 peserta.

Di sela-sela acara, siswa Smala yang bertugas menjadi MC juga memperkenalkan ajang lain dalam Exmud Party 2011. Mulai mading competition atau lomba kreasi pembuatan mading untuk tingkat SMP dan SMA sederajat. Sudah ditentukan panitia, tema mading bebas bisa memilih bentuk dua atau tiga dimensi. Tahun ini menjadi jilid III dari ajang mading competition bagi pelajar se eks Karesidenan Madiun.

Pun, tak ketinggalan diklat fotografi dengan pemateri Yuyung Abdi, fotografer terbaik Jawa Pos. Wartawan yang pernah tugas peliputan gelaran Piala Dunia 2010 ini direncanakan dua jam mengisi acara diklat. Selanjutnya, peserta diklat dari pelajar dan umum ini bisa hunting untuk mengikuti lomba dengan model yang ditentukan panitia.

Masih dari ajang Exmud Party 2011, juga dihelat Newspaper Fashion Show, lomba peragaan busana dan kreatifitas desain dengan bahan dari kertas koran Radar Madiun. Baik model dan desainer wajib dari kalangan pelajar.

Evan Hadi, Project Officer Exmud Party menyampaikan agar para peserta dari tiap ajang yang digelar segera bersiap. Pendaftaran bisa langsung ke kantor Radar Madiun atau saat road show. Sejauh ini, berbagai sekolah dari dalam dan luar Kota Madiun sudah menyelesaikan proses administrasi. Pun, cukup banyak yang menyatakan berminat. ’’Masing-masing ajang peserta terbatas, jadi even ini begitu kompetitif,’’ tegasnya.

Di bagian lain, Evan mengaku apresiatif dengan respone pelajar yang ketempatan road show. Khususnya, untuk ajang Exmud Got Talent. Pelajar serasa mengerti, di Emud Party inilah ajang sebenar-benarnya pesta kreatifitas pelajar. Sehingga, tidak mau kalah bersaing dan menunjukkan perfoma maksimal. ’’Saya harap untuk lokasi road show selanjutnya semakin heboh dan meriah, bakat yang dimiliki dikeluarkan semuanya,’’ ujarnya.

Hanya, Evan mengingatkan untuk penyisihan Exmud Got Talent selain bakat dan kemampuan yang dimiliki, juga diperhatikan dari sisi perform. Saat tampil di depan juri, bisa lebih maksimal dipadu dengan kostum yang menarik.

Sementara itu, babak penyisihan Exmud Got Talent di SMA Negeri 5, belasan peserta bersaing ketat. Mereka beradu kreatifitas dengan bakal yang dipunyai. Mulai, penampilan musikalitas puisi, seni tari tradisional, cheers, menyanyi dan memainkan alat musik. ’’Penampilan kalian bagus, saya pikir ini modal yang bagus untuk menuju babak final di Pasaraya Sri Ratu,’’ ujar Wawan Isdarwanto, salah satu juri saat memberikan komentar kepada salah satu peserta.

Para peserta juga berambisi menembus babak final yang dihelat 17-19 Juni mendatang. Seperti Ruli Anggrainil yang tampil menyanyikan lagu campursari berjudul ’Dadi Ati’’. ’’Ini baru mendadak persiapannya, semoga saja bisa lolos,’’ ujarnya.

Pihak sekolah juga menyambut baik adanya road show dari Exmud Party 2011 yang mampir di Smala. Mijo, salah seorang guru SMA Negeri 5 Madiun berharap ini menjadi agenda tahunan. ’’Tapi pelaksanaannya harus disesuaikan, ya bisa di bulan Juni setelah ulangan,’’ ujarnya. (ota/irw)

Rabu, 18 Mei 2011

Jelang Konser, ST12 Mampir di Radar Madiun

Kota pecel serasa tak asing bagi personel ST12. Karena pada 2005 silam, grup band asal Bandung yang digawangi Muhammad Charly Van Houten alias Charly (vokal), Dedy Sudrajat alias Pepeng (gitar) dan Ilham Febry alias Pepep (drum) ini pernah promo album lewat jalur indie label. ‘’Kami bersama almarhum Imam Rush (gitaris ST12) sempat menumpang tidur di mess milik PT INKA,’’ ujar Charly, saat press conference bertajuk ST12 for TNI AU di meeeting room Radar Madiun, petang kemarin (16/5).


Singkat cerita, lanjut Charly, itu masuk masa sulit ST12. Sebab, untuk memoluerkan band yang berdiri 20 Januari 2004, setiap promo harus merogoh kocek sendiri. Dia teringat saat berada di Kota Madiun dengan uang seadanya membeli nasi pecel. ‘’Jadi kota ini punya kenangan bagi ST12,’’ tambahnya.

Enam tahun berlalu, grup band ST12, kemarin kembali menyambangi Kota Madiun. Tadi malam, ST12 dijadwalkan tampil di Lapangan Angkasa Gambiran, Lanud Iswahjudi, Magetan. Even ini diprakarsai Pemprov Jawa Timur sekaligus rangkaian peringatan hari ulang tahun ke-65 TNI AU.

Saat press conference, Charly dan Pepeng didampingi Kapentak Lanud Iswahjudi Mayor Sutrisno, Bambang H Irwanto (Pemred Radar Madiun) dan awak redaksi lainnya. Kepada awak media, Charly mengucap syukur bisa kembali menyapa ST Setia madiun. Kali terakhir, grup yang namanya mua melejit lewat hits Rasa Yang Tertinggal yang dirilis di 2006, manggung di Lapangan Demangan, Kota Madiun pada November 2010. ‘’Yang pasti akan ada perbedaan, kalau dulu ST12 membawakan 10 lagu, nanti malam (tadi malam, Red) sampai 12 lagu. Konsep kemasan konser tentu beda,’’ papar Charly.

Dalam kesempatan berbincang dengan awak media, Charly sempat bicara blak-blakan. Misalnya, dia takut jika berlama-lama naik pesawat. Bahkan, gara-gara ketakutan itu, ST 12 sampai dua kali menolak tur di Amerika Serikat. ‘’Jauh banget, kalau Jepang atau negara Asia lainnya tidak apa. Indonesia juga tetap prioeritas sebab saya pikir masih banyak penikmat musik yang belum dikunjungi ST12, ‘’ paparnya.

Ternyata memang Charly benar-benar takut naik pesawat terbang. Ketika Kapentak Mayor Sutrisno dengan bercanda menawari Charly naik F-16 Fighting Falcon, langsung menolak mentah-mentah. ‘’Ah tidak, ngeri,’’ kata Charly.

Di bagian lain, enam tahun eksistensi ST12 membuat Charly bersyukur. Sebab, ST12 masih diberi karunia untuk bisa berkarya di blantika musik Indonesia. Yang terang, ada tips khusus yang diberikan Charly agar karya yang dihasilkan benar-benar berbobot. ‘’Cobalah selalu jujur dalam berkarya,’’ paparnya.

Charly juga menepis adanya kabar perpecahan dari ST12. Dia mengatakan, kabar itu mrupakan gosip belaka. Yang terang, personel ST12 masih kompak berkarya. ‘’Kami coba saling mengerti dan memahami,’’ ujarnya.

Kapentak Lanud Iswahjudi Mayor Sutrisno mewakili Danlanud Marsekal Pertama TNI Ismono Wijayanto, meminta generasi muda untuk mencontoh perjuangan ST12 meretas karir. ‘’Ini catatan positif dan patut ditiru, mudah-mudahan bisa memotivasi anak muda di Kota Madiun dan sekitarnya untuk berkreasi,’’ paparnya. (ota/irw)

Minggu, 15 Mei 2011

Kesempatan Emas, Diklat bersama Fotografer Jawa Pos

Even tahunan Radar Madiun bertajuk Exmud Party, ajang pesta kreatifitas pelajar segera digelar. Rangkaian kegiatan heboh mulai digelar. Jumat lalu, SMAN 3 Kota Madiun menjadi sekolah pertama yang disinggahi tim kreatif Exmud Party Radar Madiun.


’’Exmud Party tahun ini lebih heboh. Karena ada even baru, yakni diklat fotografi bersama fotografer Jawa Pos dan Exmud Got Talent,’’ kata Evan Hadi, project officer Exmud Party Radar Madiun.

Selain, agenda rutin tahunan, mading competition. Ada juga gelaran heboh, newspaper fashion show untuk pelajar. Yakni, siswa dituntut menjadi desainer busana dari kertas koran, dan temannya yang menjadi model.

‘’Bagi pelajar mulai SMP-SMA, komunitas fotografi di wilayah Eks Karesidenan Madiun, ini kesempatan emas, belajar fotografi langsung dengan fotografer senior Jawa Pos. Selain diklat, juga ada praktik langsung dan karya terbaik disediakan hadiah,’’ papar Arief Yoga, penanggungjawab diklat fotografi.

Kehebohan Exmud Party akan digelar di Pasaraya Sri Ratu, Jalan Pahlawan Kota Madiun. Arief Yoga menambahkan, kemampuan dan minat pelajar dengan dunia fotografi belakangan mengalami kemajuan pesat. Pun, fasilitas yang mereka miliki sudah berkembang mengikuti perkembangan teknologi. Di sisi lain, memotret tak harus menggunakan kamera mahal, untuk menghasilkan foto bagus dan menarik. ‘’Tapi, sudut pengambilan foto, teknik pengambilan, juga berpengaruh terhadap hasil jepretan atau foto. Fotografer Jawa Pos juga akan menularkan ilmu bagaimana foto bernilai jurnalistik,’’ papar Arief Yoga.

Peserta akan diberi kesempata hunting langsung di Pasaraya Sri Ratu. ‘’Jadi, yang ingin berbagi ilmu, mendalami fotografi jurnalistik, ingin tahu bagaimana membuat foto menarik, buruan daftar,’’ ungkapnya.

Exmud Party Radar Madiun akan digelar 17-19 Juni 2011 di hall Pasaraya Sri Ratu. Banyak hadiah yang disediakan. Even baru dalam rangkaian Exmud Party adalah Exmud Got Talent, ajang pencarian bakat. Bagi kami yang punya keterampilan menarik seperti menyanyi, main musik, menari, cheer, dance, sulap, pantomim, atau atraksi heboh lainnya, bisa ikutan gabung. Akan digelar audisi di sekolah, kantor Radar Madiun maupun Pasaraya Sri Ratu. (yog/irw)

Sabtu, 14 Mei 2011

Rangkaian Exmud Party 2011 Dimulai

Kehebohan pesta kreatifitas pelajar yang dihelat Radar Madiun dikemas dalam even Exmud Party 2011 mulai terasa, kemarin (13/5). Gaung dimulai dari SMA Negeri 3 Kota Madiun. Ratusan pelajar sekolah berlabel RSBI ini nimbrung di acara road show Exmud Party 2011.


Kreatifitas pelajar mulai ’diuji’ sebelum tanding 17-19 Juni di Pasaraya Sri Ratu. Mulai mading competition atau lomba kreasi pembuatan mading untuk pelajat SMP dan SMA. Tema bebas, boleh pilih bentuk dua atau tiga dimensi. Tentu, yang paling utama harus mengedepankan nilai jurnalistik. Tahun ini merupakan jilid III dari perlombaan mading bagi pelajar se Eks Karesidenan Madiun yang dihelat Radar Madiun.

Nah, bagi pelajar yang punya hobi fotografi di Exmud Party 2011 yang disupport Yamaha, juga ada ajang diklat fotografi bersama fotografer Jawa Pos. Ada juga Newspaper Fashion Show, lomba peragaan busana dan kreatifitas desain dengan bahan dari kertas koran Radar Madiun.

Tak ketinggalan ajang pencarian bakat ala Radar Madiun lewat ajang Exmud Got Talent. Kemarin, bersamaan acara road show dilakukan sesi audisi Exmud Got Talent khusus pelajar SMA Negeri 3 Kota Madiun. Selanjutnya, audisi bergerak ke SMA Negeri 1, 4, 5 dan 6 dalam acara road show. Peserta juga bisa mendaftar langsung ke kantor Radar Madiun dan biro-biro di daerah.

’’Jumlah peserta dari masing-masing sekolah itu cukup banyak, makanya dilakukan audisi sendiri. Nanti mulai 1 Juni, di kantor Radar Madiun juga digelar audisi bagi pendaftar sekolah lain,’’ kata Evan Hadi, Project Officer Exmud Party, di sela-sela audisi di SMAN 3 Kota Madiun, kemarin.

Evan mengaku apresiatif dengan bakat yang dipertontonkan pelajar SMA Negeri 3 Kota Madiun. Ke depan, pelajar sekolah lain juga diharapkan mampu all out menunjukkan kemampuan yang dimilikinya. ’’Exmud Got Talent ini ajang yang tepat menunjukkan kreatifitasnya. Saya pikir pelajar tidak mau melewatkan even ini, ’’ paparnya.

Antusiasme pelajar SMA Negeri 3 Kota Madiun ikut ajang Exmud Got Talent patut diacungi jempol. Mereka juga berlomba untuk bisa lolos ke babak final 17-19 Juni mendatang. Penampilan yang dipertontonkan di depan juri seperti modelling, grup akustik, juggling bola, tari tradisional.

Pun, ada perfomance yang cukup ektsrem. Seperti penampilan Sukhufi Dasatu Ikrarno, siswa XI IPA 1, yang tampil solo memainkan yoyo. Puncaknya, dia melakukan atraksi semprot api. Dia menilai ajang Exmud Got Talent cukup tepat untuk adu bakat dengan pelajar lain. ’’Saya berharap bisa lolos ke final,’’ kata cowok yang punya hobi main yoyo sejak SD.

Juga tak mau kalah penampilan atraktif kolaborasi cheer dan menyanyi dari grup yang digawangi Fery, Desty, Ajeng, Ardian dan Kichando. Mereka adalah gabungan kelas XI IPA 4, serta IPS 1 dan 2. Padahal, mereka baru latihan sehari sebelum audisi. ’’Kami optimistis bisa lolos karena sudah berusaha memberikan penampilan yang terbaik,’’ ujar Desty Anita Kusuma.

Di bagian lain, Arief Yoga, penanggungjawab ajang diklat fotografi menyampaikan agar pelajar buruan mendaftar. Kesempatan mengikuti terbilang langka. Karena pemateri langsung dari wartawan Jawa Pos. ’’Buruan daftar, memotret itu asyik. Mari bersama belajar fotografi, apalagi tempat terbatas, dan langsung pematerinya dari Jawa Pos,’’ ujarnya.

Ockta Prana, penanggung jawab Mading Competition juga berharap sekolah mempersiapkan diri madingnya dengan maksimal. Pasalnya, kuota bagi SMP dan SMA yang disediakan panitia terbatas. Beberapa sekolah di Kota Madiun dan kabupaten lain, sudah menyelesaikan proses administrasi pendaftaran. Jadi, mereka resmi menggenggam tiket ikut ajang Mading Competition. (ota/irw)

Selasa, 10 Mei 2011

SMP Negeri 3 Dolopo Kabupaten Madiun

Pelajar Santun berkat Budaya 5S
SELAIN orang tua, kesuksesan seseorang nggak lepas dari peran guru. Itu pula yang mendasari SMPN 3 Dolopo (Spentido) Kabupaten Madiun menanamkan pada diri siswanya agar selalu menghargai guru-gurunya.
Sikap menghargai guru itu merupakan bagian dari pembiasaan di Spentido, yaitu 5S. “Yaitu singkatan dari senyum, salam, sapa, sopan, dan santun,” ujar Pak Subroto, Kepala SMPN 3 Dolopo.
Menurut Pak Subroto, budaya 5S bisa membentuk akhlak pelajar yang baik.
“Penerapan 5S ini berdampak positif bagi siswa. Akhlak mereka menjadi lebih baik dan menghargai guru. Saya sangat bangga karena budaya dan pembiasaan–pembiasaan di sekolah ini berbeda dengan sekolah lain,” sambung suami dari Bu Herin LH, Kepala TK Wijaya Kusuma Doho, ini.
Meskpun begitu, bukan berarti Pak Subroto melupakan aspek akademis siswa. Buktinya, meski usia Spentido masih terbilang muda, soal prestasi nggak mau kalah sama sekolah yang sudah puluhan tahun berdiri. Di antaranya mencatat angka kelulusan 100 persen.
Prestasi siswa di bidang olahraga juga oke lho. Antara lain juara I lari se-Kabupaten Madiun, juara II lompat jauh putri se-Kabupaten Madiun, juara harapan I bola voli se-Kabupaten Madiun, dan masih banyak lagi.
Pak Subroto sendiri bukan orang baru di dunia pendidikan. Pria yang saat ini sedang menempuh program S2 di Universitas Islam Malang itu sudah punya jam terbang tinggi sebagai pendidik. Berawal dari mengajar di SMPN 3 Slawi, Tegal, Jawa Tengah, Pak Subroto hijrah ke Jawa Timur untuk mengajar di beberapa SMP negeri di Kabupaten Madiun.
Kemudian, Pak Subroto “naik gunung” ke Desa Suluk, untuk mengajar di SMPN 3 Dolopo mulai tahun 2007, hingga akhirnya dipercayai memimpin sekolah ini. “Visi dan misi saya sebagai kepala sekolah ini yaitu tangguh dalam prestasi, budi, religi, dan simpati lingkungan,” kata Pak Subroto
Bapak Subroto merupakan salah satu orang yang turut berperan dalam berdirinya SMPN 3 Dolopo. Di bawah kepemimpinannya pula sekolah ini berhasil mendapatkan akreditasi A. Lalu apa target ke depan untuk SMPN 3 Dolopo? “Target saya pada tahun 2014 SMPN 3 Dolopo menjadi Sekolah Standar Nasional (SSN) dan Sekolah Adiwiyata,” ujarnya. (rc/dp/es/waw)

Ajari Siswa Mandiri lewat Ekskul Anyaman
EKSKUL anyaman? Baru dengar kan? Ya, ekskul ini menjadi andalan di SMPN 3 Dolopo (Spentido) Kabupaten Madiun, dan mungkin merupakan yang pertama dan satu-satunya di Kabupaten Madiun.
“Ekstra anyaman mulai diselenggarakan di sekolah sejak SMPN 3 Dolopo
dipimpin Pak Sugito (kasek pertama) dan terus berlanjut sampai sekarang di bawah kepemimpinan Pak Subroto,’’ kata Bu Djasmiati, pembina ekskul anyaman ini.
Bukan tanpa alasan SMPN 3 Dolopo mengadakan ekskul anyaman. Menurut Bu Djasmiati, eksul ini sengaja diadain agar anak-anak mendapatkan keterampilan (life skill). ‘’Dan diharapkan setelah lulus dari sekolah ini, mereka mampu membuka usaha sendiri,” terang Bu Djasmiati.
Tak mau tanggung, awalnya sekolah mendatangkan pembina dari luar yang ahli membuat tas anyaman selama 3 kali pertemuan. Sekarang ekskul ini dibina oleh empat guru yaitu Pak Suwito, Bu Djasmiati, Bu Hanik, dan Bu Nanik. Kegiatan ekskul ini diadakan seminggu sekali pada hari Jumat mulai pukul 08.00. “Hasil anyaman saat ini antara lain tas, tompo, dan keranjang ayam. Ukurannya pun beragam. Mulai dari kecil, sedang, hingga ukuran besar,” ujar Bu Hanik.
Bahan membuat kerajinan anyaman berasal dari plastik. Sedangkan lama pembuatannya biasanya tergantung kemampuan siswa. Mereka yang sudah terampil bisa menyelesaikan satu tas ukuran besar dalam waktu cuma sehari. Sedangkan, siswa yang belum terampil butuh 2-3 hari.
“Asyik ikut kegiatan ini, karena bisa nambah uang saku. Selain itu, lewat ekskul ini aku bisa melatih kesabaran, ketelatenan, keuletan dan kemandirian,” kata ,” kata Didik Pitono, salah satu siswa yang mengikuti ekskul anyaman.
Ikut ekskul anyaman bisa nambah uang saku? Kok bisa? Soalnya, tas-tas bikinan siswa itu dijual. Nah, setiap satu tas yang laku terjual, siswa mendapat keuntungan Rp. 1.000 dari sekolah. Keren kan? “Dengan cara itu, siswa dapat menambah uang saku mereka. Jadi, bisa meringankan beban orang tua,” ungkap Bu Nanik
“Selain siswa sendiri yang menjual produk hasil anyaman ke lingkungan sekitar rumah masing-masing, produk ini juga dipasarkan di toko-toko sekitar sekolahan,” tambahnya.
Hasil kerajinan anyaman SMPN 3 Dolopo juga pernah dipamerkan di Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun, GOR Pangeran Timur Caruban, dan Pujapo Dolopo. Keunggulan tas anyaman bikinan siswa SMPN 3 Dolopo yaitu tahan lama, praktis, dan modelnya gaul. (ty/an/dk/waw)

Kembangkan Dongkrek dan Reog

GENERASI sekarang sudah banyak yang lupa pada budaya tradisional. Tapi tidak bagi anak-anak SMPN 3 Dolopo (Spentido) Kabupaten Madiun. Sebaliknya, mereka sangat menyukai seni khas daerah. Salah satunya dongkrek.
‘’Seni dongkrek dikembangkan di sekolah ini sejak setahun lalu. Grup dongkrek sekolah ini juga sudah pernah mengikuti lomba di tingkat Kabupaten Madiun,’’ kata Bu Retno, pembina seni tari.
Selain dongkrek, di Spentido juga dikembangkan seni reog Ponorogo. “Sebagian murid sudah pandai memainkan gendang, jatilan, ganong, dan merak. Bahkan mereka ikut tergabung dalam kelompok Reog Ponorogo yang ada di Ngebel untuk mengikuti berbagai festival di luar daerah Ponorogo dan Madiun,” tutur Bu Indah yang juga pembina tari Spentido.
Agus, siswa Spentido yang bisa memerankan buto (raksasa) dalam seni dongkrek, mengaku tak lagi minder setelah menekuni kesenian asli Kabupaten Madiun ini. “Nggak minder lagi. dDngan postur tubuh saya yang besar ternyata dibutuhkan dalam peran sebagai raksasa di seni dongkrek ini,” ujarnya.
“Saya senang dengan adanya ekskul seni dongkrek di sekolah karena saya bisa lebih mengenal lagi budaya asli Madiun. Selain itu, bisa mengembangkan bakat seni saya tanpa repot-repot mencari sanggar tari,” ungkap Ajeng, peserta ekskul seni dongkrek lainnya. (rc/waw)

Ada Uji Nyalinya Juga, Lho
AKHIR Maret lalu SMPN 3 Dolopo ngadain kegiatan pramuka Lomba Tingkat 1 (LT 1). Kegiatan ini merupakan pertama kalinya diadain Kwartir Ranting Dolopo dan Spentido adalah sekolah yang pertama menyelenggarakannya. Hebat kan?
“Awalnya, saya sedang mengikuti pertemuan pembina di Kwartir Cabang Madiun.
Di situ ada informasi kalau tahun ini akan diadakan pendaftaran Pramuka Garuda. Dari situlah, saya berkeinginan mengadakan LT 1 di Kwartir Ranting Dolopo,” ungkap Kak Ipung, pembina pramuka SMPN 3 Dolopo
Kata Kak Ipung, LT 1 bertujuan memenuhi syarat Pramuka Garuda dan memberikan pengalaman serta wawasan pada siswa. LT 1 diisi dengan berbagai kegiatan seru dan menantang, seperti penjelajahan ke sawah, sungai, dan hutan. Tak kalah serunya uji nyali dengan menuruni jembatan dengan seutas tali dari ketinggian 15 m.
“Asyik banget, jadi lebih semangat mengikuti pramuka. Juga bisa mempererat persaudaraan karena kita bersosialisasi dengan masyarakat,” ungkap Ferdian, pemimpin regu Elang, pemenang LT 1. (rc/dp/es/waw)


Belajar Alquran lewat Ekskul Qiro’ah
NUANSA religius langsung terasa, begitu menginjakkan kaki di SMPN 3 Dolopo. Maklum, sekolah ini nggak hanya fokus pada kemampuan akademis, tapi juga aspek spiritual siswa. Beberapa upaya yang dilakukan pihak sekolah antara lain mengadakan ekstrakurikuler qiro’ah,
penambahan jam untuk pendidikan agama Islam, pembiasaan menghafal surat-surat pendek serta ditambah budaya masjid, dan guru-guru putri yang seluruhnya berjilbab.
Ekstrakurikuler qiro’ah di SMPN 3 Dolopo dibimbing oleh Bu H. Anik Purwati dan Bu Siti Syamsiatun. Mereka mengajar dengan cara memberikan materi (maqro) dan lagu-lagu qiro’ah yang sesuai dengan MTQ (Musabaqoh Tilawatil Quran) agar siswa mengetahui tentang ilmu tajwid dan makhorijul khuruf. “Saya bangga mempunyai anak didik yang mau mengikuti ekskul qiro’ah,” ujar Bu Anik
“Bahkan mereka pernah mewakili sekolah yaitu MTQ di Dinas Pendidikan, dan MTQ di tingkat Kecamatan Dolopo,” tambah bu guru yang pernah menjuarai MTQ tingkat Kabupaten Madiun ini.
Saat ini siswa yang mengikuti ekskul qira’ah ada 25, dan semuanya berprestasi. “Niat dan semangat sangat penting dalam mengikuti ekskul ini. Saya yakin semua siswa bisa membaca Alquran dengan baik asalkan ada niat dan semangat untuk belajar,” kata Bu Siti.
Tak hanya di sekolah, siswa juga dianjurkan membiasakan membaca Alquran di rumah masing-masing. Bahkan, seluruh siswa 3 Dolopo diwajibkan menghafalkan surat-surat pendek sesuai target yang ditentukan sekolah. “Seneng banget bisa ikut ekstra qiro’ah,” kata Anisa, siswi kelas VIII. (an/ty/waw)

Masuk Kelas Lepas Sepatu, Teras Pun Kinclong

KEBERSIHAN adalah sebagian dari iman. Hadist Rasulullah SAW itu diterapkan betul oleh SMPN 3 Dolopo. SMP yang berada di jalur menuju Telaga Ngebel ini getol menjaga
kebersihan sekolah. Tapi, cara yang dilakukan berbeda dengan sekolah lain.
Penerapan budaya bersih di SMPN 3 Dolopo terbilang unik. Yaitu, mengadopsi budaya masjid. Siapa saja harus melepas sepatu atau alas kaki ketika masuk kelas maupun ruangan-ruangan lain di sekolah.
Budaya lepas sepatu ini diberlakukan semenjak sekolah berdiri empat tahun silam. Ide ini muncul karena halaman sekolah yang masih berupa tanah, sehingga saat musim hujan halaman menjadi becek. “Kalau lingkungan bersih kita jadi nyaman belajar,” kata Indah, siswa kelas VIII.
Maka, jangan heran kalau teras kelas-kelas di SMPN 3 Dolopo selalu tampak kinclong. Lantas ditaruh di mana sepatu-sepatu itu? Sekolah sengaja menyediakan rak sepatu di setiap depan kelas. Dan jangan berharap bisa masuk dalam kelas dengan memakai sepatu kalau nggak ingin diberi sanksi.
“Pertama kali melihat, saya terkejut kok ada sekolah yang menerapkan budaya lepas sepatu. Sekolah ini menjadi tampak bersih didukung lokasinya di daerah pegunungan yang asri. Patut dicontoh sekolah lain,” ujar Pak Mustari, salah satu wali murid.
Kebersihan SMPN 3 Dolopo juga didukung program pemilahan sampah. Tempat sampah di sekolah ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu sampah organik (warna hijau), sampah kertas (kuning), dan sampah plastik (merah). “Tempat sampah yang berwarna berbeda ini dimaksudkan agar siswa bisa memilah mana sampah yang dapat didaur ulang dan tidak,” kata Pak Suwito, guru PLH.
Masalah kebersihan sekolah memang sangat diperhatikan di SMPN 3 Dolopo. Bukan cuma budaya lepas sepatu dan pemilahan sampah, tetapi juga program peduli lingkungan terkait global warming. “Untuk menuju sekolah Adiwiyata, kami mempunyai program one man one tree. Maksudnya, setiap anak diberi tugas untuk menanam tumbuhan ke sekolah dan diwajibkan untuk menjaganya” tutur Pak Subroto, kepala sekolah.
“Tumbuhan yang dibawa biasanya tumbuhan pelindung seperti pohon jati dan trembesi. Tumbuhan produktif seperti ketela pohon dan jagung. Tumbuhan obat dan tumbuhan yang menghasilkan buah misalnya durian, klengkeng, jambu, dan rambutan,” tambahnya. (rc/ty/an/waw)


Crew Liputan:

Rabu, 04 Mei 2011

Sejarah dan Perkembangan Jurnalistik di Indonesia

Sejarah dan Perkembangan Jurnalistik di Indonesia - Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timoer, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.

Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.

Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih.

Masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Independen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.

Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.

Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang dikeluarkan Dewan Pers dan Undang-Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 yang dikeluarkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia atau KPI. (sumber: wikipedia)

Senin, 02 Mei 2011

SMAN 3 Madiun

Belajar di Negeri Paman Sam

Terapkan Pembelajaran
di Amrik ke Siswa Smaga

GURU bahasa Inggris SMAN 3 (Smaga) Madiun yang satu ini nggak mau kalah dengan siswa-siswinya. Siapa lagi kalo bukan Pak Agung Purnomo. Di tahun 2007 ia mengikuti seleksi beasiswa belajar ke Amerika Serikat. Seleksinya nggak gampang lho, se-Indonesia hanya diambil 8 orang. Waktu itu, Pak Agung merupakan satu-satunya wakil dari Jawa Timur
Banyak pengalaman yang didapat Pak Agung selama berada di Negeri Paman Sam. Antara lain: Teaching English to speakers of other langueges di Groves High School, Savanah, Georgia. Selain itu juga berpartisipasi dalam The 18th Annual National Youth-At Risk Conference di Savannah.
Pak Agung sempat pula menghadiri The Distributed Leadership Conference yang menghadirkan narasumber sejumlah praktisi dari Inggris. Juga berpartisipasi sekaligus presentasi di The Georgia Chapter of the National Association untuk Multicultural Education Annual Conference, Atlanta, U.S.A.
Selama di Amrik, Pak Agung sangat terkesan dengan dunia pendidikan di sana. Di Georgia, kata dia, siswa masuk jam 8 sampai jam 2 siang.
Dalam satu semester cuma ada 4 mapel. Meski begitu, suasana belajar mengajar berjalan dinamis. Soalnya, pelajar atau mahasiswa di sana aktif bertanya dan selalu on time. Mereka juga suka banget membaca. Perpustakaannya pun buka nonstop 24 jam.
Nggak lupa satu professor selama satu semester menugasi membaca 32 buku untuk dipresentasikan dan didiskusiikan . Satu kelas IT di pegang 3 professor. “Ya budaya yang bisa memotivasi pendidikan di Indonesia. mengapa tidak kita tiru,” ujar Pak Agung.
Nggak sia-sia pak guru yang baru aja lolos seleksi kuliah S2 di Universitas Negeri Malang itu jauh-jauh ke Amrik. Pengalaman selama belajar di negaranya Barack Obama itu diterapkan di kelas bahasa Inggris and conversation Smaga. Di antaranya, penggunaan total English Immersion. Dan, pelajaran bahasa Inggrisnya diawali commitment building dan moment of reflection and projection.
Siswa pun dilatih menguasai critical thinking, dan bisa berpikir out of the box. Maksudnya, diusahain bisa nemuin jawaban sendiri dengan observasi dan diskusi. Serunya lagi, dalam conversation ada penggabungan antara English dan IT.
Pak Agung ini dikenal komitmennya yang tinggi menanamkan kejujuran pada siswa. Pun saat ujian, yang namanya cheating no way!. Kalo nyontek atau memberi jawaban ke teman, nggak ada ampun, penaltinya nol. (*)


Raih Peringkat Tiga Nasional
KALO Pak Agung pernah ke Amrik, lain dengan Bu Wahyuni Puji Astuti. Guru biologi Smaga Madiun ini sempat mengikuti pelatihan guru se-Asia Tenggara yang diadain Dirjen PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan).
Saat mengikuti kegiatan itu, Bu Ninik mendapatkan informasi mengenai internalisasi climate change (perubahan iklim).
Mulai dari fenomena tentang climate change, desain RPP atau lesson plan yang memuat isu climate change, jurnalistik bidang pendidikan, sampai penelitian lapangan untuk mengamati dampak dari perubahan iklim tersebut. ‘’Semua itu tentunya akan diimplementasikan di sekolah,” tutur guru yang telah membimbing KIR Smaga dan 5 kali siswa yang dibimbingnya mendapat juara nasional ini.
Bu Ninik juga pernah mengikuti pelatihan guru RSBI se-Indonesia di Bandung. Selama mengikuti pelatihan itu, dia mendapat banyak informasi dan pengalaman. Antara lain informasi tentang kebijakan program RSBI, pengembangan kurikulum, peer teaching, serta teknologi in scince .
‘’Meskipun capek karena kegiatannya padat sekali, mulai pagi sampai malam, tapi alhamdulillah kerja keras saya tidak sia-sia karena mendapat peringkat tiga nasional,’’ kata Bu Ninik yang saat ini sedang menempuh beasiswa S2 di Unesa, program dari Pemprov Jawa Timur itu. (*)


Variatif dan Inovatif
SIAPA yang nggak tau SMAN 3 (Smaga) Madiun? Sekolah yang yang berlokasi di Jalan Ring Road Barat ini punya cerita di balik suksesnya menjadi
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) pertama di-eks Karesidenan Madiun. Mau tau? Check it out!
Smaga meraih status RSBI tak lepas dari jasa kepala sekolah waktu itu, Pak Dollar Yuwono. Pak Dollar beserta Bu Aida Rusmilati (wakasek kurikulum saat itu) merancang dan kemudian menerapkan program Quantum Teaching dan Quantum Learning. Guru harus menggunakan metode pembelajaran variatif dan inovatif yang bisa bikin murid berpikir kritis dan merasa enjoy. Pokoknya, all methode are Student Centered Learning.
Sarana dan prasarana juga dilengkapi untuk mendukung proses pembelajaran. Selain itu, guru-guru diwajibkan melek IT . Untuk mendukung proses pembelajaran sehari-hari yang menggunakan IT, guru-guru dikursuskan komputer dan kursus bahasa Inggris untuk mendukung jalan menuju RSBI ini. “Model pembelajaran Quantum Teaching dan Quantum Learning ini mengantarkan siswa siswi memperoleh prestasi tingkat provinsi maupun nasional,” tutur Bu Aida yang sekarang jadi Kepala SMAN 3 Madiun.
Lanjut Bu Aida, banyak jebolan Smaga yang diterima PTN (jalur PMDK maupun SNMPTN) dan swasta favorit. Sebut saja UGM, UI, ITB, STT Telkom, Universitas Petra, dan sebagainya. ‘’Jadi, siswa dan guru berpacu untuk meningkatkan prestasi,’’ tuturnya.
Bahkan, pada tahun pelajaran 2009/2010 silam, yang keterima di PTN mencapai 94 persen. Dari jumlah itu, lebih dari 25 persen lolos lebih dari satu universitas. ‘’Banyak juga yang diterima di sekolah kedinasan seperti STAN, STIS, dan lain lain,’’ ungkapnya. (*)


Tampil Beda, Berjaya di Surabaya
DIAM-DIAM, Smaga Madiun ternyata menyimpan potensi seniman berbakat. Buktinya, tim sekolah ini sering dapat juara lomba poster. Bahkan, pernah meraih juara 3 lomba poster tingkat nasional yang diadain Unair. Hebat kan!
“Awalnya bikin sketsa dulu, lantas dikonsultasikan dengan guru seni dan masukan teman-teman,” tutur Ardika, salah satu tim lomba poster Smaga.
Pada lomba poster itu, Smaga juga memberangkatkan tim olimpiade farmasi yang juga diadain Unair.
Menurut Irawan, tim lomba poster Smaga lainnya, poster bikinan timnya beda sendiri, hampir menyerupai komik yang variatif. ‘’Jadinya, kalau dilihat nggak membosankan,’’ ungkap Irawan yang juga pernah juara 1 fisika tingkat karesidenan dan juara 2 lomba lintas alam se-Jatim ini.
Prestasi serupa diraih Brian Adinata. Pada even lomba poster IT se-Jawa Bali yang diadain Fakultas Kedokteran UNS, dia meraih juara 2. ‘’Waktu itu temanya No Tobacco Day dalam rangka Hari Anti Rokok Sedunia,’’ ungkapnya.
Sementara, Michael, salah satu tim olimpiade farmasi, bilang kalo setiap ada info lomba, anak-anak Smaga selalu antusias. ‘’Materi yang dipelajari nggak hanya didapat dari sekolah, tetapi juga referensi dari internet,” tutur Mikael. (*)

Raih Juara 2 Olimpiade Biologi se- Jawa Bali
NGGAK rugi Moh. Bagas dan Arie Prasetyawan menyukai pelajaran biologi dan betah berlama-lama di lab. Pada Olimpiade biologi se-Jawa Bali
yang diadain Universitas Negeri Malang beberapa waktu lalu, mereka menyabet juara 2. Sebelumnya, Bagas dan Arie dapet juara 1 seleksi wilayah Karesidenan Madiun. ‘’Peserta lombanya 500 kelompok lebih ,” tutur Bagas.
Arie menambahkan, untuk materi lomba praktik antara lain anatomi tumbuhan, anatomi fisiologi hewan, dan biologi lingkungan. ‘’Materi praktik anatomi tumbuhan dan biologi lingkungan lancar menjawabnya. Tapi untuk anatomi fisiologi sempat grogi sampe-sampe alat buat praktik jatuh,’’ kenang Arie.
Ditanya tentang ujian nasional (unas), Arie mengaku bersyukur bisa mengerjakan soal yang diujikan. Menurutnya, itu nggak lepas pula dari persiapkan yang dilakukan jauh-jauh hari. ‘’Doain aja hasilnya bagus, amiin,’’ tutur arie yang pernah juara 3 telling story bahasa Inggris se-Jatim Bali ini. (*)

Crew Liputan Smaga Madiun

 
Exmud Online © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum