Pages

Selasa, 18 Oktober 2011

SMA PGRI 1 Ngawi

Bahasa Mandarin
Pelajaran Wajib

BAHASA Mandarin kini menjadi elemen penting dunia industri di era globalisasi. Karena itu, SMA PGRI 1 (Smarisa) Ngawi sengaja memasukkan bahasa Mandarin sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa sekolah itu, mulai kelas X sampai XII.
‘’Pengajaran bahasa Mandarin ini sesuai aturan pemerintah yang mewajibkan sekolah memasukkan muatan lokal bahasa asing di setiap sekolah,’’ terang Kepala SMA PGRI 1 Ngawi Pak Suwito diamini
Bu Sugiyanti, guru bahasa Mandarin Smarisa.
Kenapa bahasa Mandarin? ‘’Karena bahasa mandarin merupakan bahasa yang paling banyak penggunanya, seiring banyaknya warga keturunan China yang tersebar di berbagai belahan dunia,’’ ungkap Bu Sugiyanti.
Untuk memacu kreativitas, menjelang kegiatan tengah semester lalu, beberapa siswa diminta membuat spanduk bertuliskan Smarisa menggunakan huruf Mandarin. Keren kan!
So, anak-anak Smarisa nggak cuma ngomong ni hao ma (apa kabar). Tapi sudah casciscus kalo bicara pakai bahasa Mandarin. “Ren sen nan mian yao zao yu cuo zhe yu shi yu qi yong lei shui yi shua hui hen, buru yong wei xiao qu ying ji xin di hao zhan (hidup manusia tak luput dari mengalami kekandasan atau kegagalan daripada menggunakan air mata membersihkan penyesalan, lebih baik gunakan senyum pergi menyongsong tantangan yang baru),’’ ucap salah seorang siswa. (*)

FAVOURITE TALENT

Ekskul Tari Tradisional
di Smarisa Diminati

BUDAYA pop boleh saja menggejala, tapi SMA PGRI 1 (Smarisa) Ngawi nggak lupa sama kesenian tradisional. Buktinya, sekolah ini punya ekstrakulikuler tari tradisional.
Hebatnya lagi, anak-anak ekskul tari Smarisa sudah sering menjuarai berbagai even, baik lokal maupun regional.
Yang terbaru, tim tari Smarisa menyabet juara satu kategori favourite talent festival seni tingkat pelajar se-Kabupaten Ngawi. Waktu itu, anak-anak Smarisa bawain tari incling jangget. Atas prestasi itu, Smarisa ditunjuk mewakili Ngawi pada pemilihan duta penari Jatim. Tak jarang pula tarian itu ditampilkan untuk penyambutan tamu di Kabupaten Ngawi.
Ekskul tari Smarisa diadain setiap hari Kamis. Nggak gampang lho ngajar tari tradisional itu. Mulai dari gerak kepala sampai kaki menuntut kesempurnaan agar muncul nilai estetikanya. “Mengajar tari tradisional itu lebih sulit dari tari modern,” ungkap Bu Dyas Ajeng Sulistyoningrum, pembina ekskul tari tradisional Smarisa.
Bu Dyas berharap, lewat ekskul tari tradisional itu, kesenian tradisional di Indonesia terutama akan terus memiliki generasi-generasi penerus dan tidak lekang ditelan zaman.
Ekskul tari tradisional SMA PGRI 1 Ngawi cukup diminati. Risma, salah satu peserta ekskul tari tradisional Smarisa, mengaku menggandrungi seni tari sejak duduk di bangku sekolah dasar. Makanya, dia sudah lihai memeragakan gerakan-gerakan sulit tari tradisional maupun modern. (*)

Foto, Animasi, hingga Film Pendek
SEKOLAH lain nggak boleh ngiri ya. Di Ngawi, konon cuma SMA PGRI 1 (Smarisa) yang memasukkan desain grafis sebagai salah satu mata pelajaran muatan lokal.
So, siswa pun selalu antusias saat mengikuti pelajaran tersebut.
‘’Tak heran jika desain grafis menjadi pelajaran muatan lokal unggulan di sekolah kami, sebab saat ini di wilayah Ngawi baru SMA PGRI 1 yang memiliki mata pelajaran desain grafis,’’ kata Pak Suwito, kepala sekolah.
Agar penguasaan siswa soal desain grafis benar-benar maksimal, sekolah melengkapi sarana pembelajaran dengan laboratorium khusus desain grafis. Lab itu diatur sedemikian rupa sehingga bisa juga untuk pemotretan. Tentunya lengkap dengan seabrek perangkat pendukung yang harganya terbilang tidak murah.
Kemampuan anak-anak Smarisa di bidang desain grafis juga telah menghasilkan produk-produk mengagumkan. Mulai koleksi foto hasil jepretan siswa, desain animasi, sampai film berdurasi pendek. ‘’Sempat diputar dan ditonton bareng saat pelepasan siswa kelas XII,’’’ ungkap Pak Wahyu Effendi, guru mata pelajaran desain grafis.
Adanya mata pelajaran desain grafis disambut positif orang tua siswa maupun masyarakat Ngawi umumnya. Maklum, prospek ke depan bagi yang punya keterampilan di bidang desain, fotografi maupun film cukup menjajikan. (*)

Sabet Perunggu Porprov Jatim
MOMEN Pekan Olah Raga Provinsi (Porporv) Jatim II di Kediri Juli lalu membawa kesan mendalam bagi Septian Novel Firgiawan.
Soalnya, atlet jujitsu asal SMA PGRI 1 (Smarisa) Ngawi itu mampu meraih hasil membanggakan. Novel berhasil menggondol medali perunggu cabang olah raga (cabor) wushu.
Novel yang kala itu turun di kelas 60-65 kilogram mengawali pertandingan dengan baik. Di laga pertama, cowok yang sekarang duduk di bangku kelas XII IA 1 itu mengalahkan wakil Kota Madiun. Kemenangan berlanjut saat dia melawan wakil Surabaya. Sayang, Novel gagal melaju ke partai puncak dan hanya meraih medali perunggu.
Kepiawaian Novel dalam beladiri jujitsu berawal dari coba-coba. Saat masih kelas X, dia iseng-iseng ikut ekstra jujitsu di Smarisa Ngawi. ‘’Lama-lama jadi suka. Jujitsu itu beladiri yang mudah dipelajari, tapi ilmunya sangat banyak dan lengkap,’’ ujar Novel.
Bahkan, dia nggak pernah absen latihan rutin di Smarisa yang jadi pusat latihan jujitsu sekolah-sekolah favorit di Ngawi ini. ‘’Banyak teman yang ikut, jadi betah,’’ katanya.
Bakat besar Novel mengantar dirinya mewakili Ngawi di ajang Porprov Jatim II di Kediri. ‘’Sebelumnya harus menjalani TC (training center, Red) terlebih dahulu selama enam bulan,’’ ungkapnya. (*)

Ketika Smarisa Memilih Pengurus OSIS Baru

Jalan Kaki 15 Kilo
di Malam Hari


SMA PGRI 1 (Smarisa) Ngawi punya cara unik saat membentuk kepengurusan OSIS yang baru. Pada 15-16 Oktober lalu, para calon pengurus mengikuti ujian fisik dan mental di Jamus.

-----------------

Hawa lokasi wisata Jamus malam itu terasa dingin menusuk tulang. Namun, hal itu tak menyurutkan semangat anak-anak Smarisa melaksanakan rantai kegiatan yang telah dijadwalkan.
‘’Karena asyik, nggak terasa capek,’’ kata Divery, salah satu peserta.
Hari itu, Divery bersama teman-temannya di Smarisa sedang mengikuti kegiatan kesamaptaan yang merupakan bagian rekrutmen pengurus OSIS baru. Kegiatan yang memacu adernalin itu sengaja diadakan untuk menguji fisik dan mental para calon pengurus OSIS. ‘’Nggak cukup hanya cerdas dan berwibawa, tapi juga harus cekatan dan terampil,’’ tutur cewek yang pernah jadi anggota paskibraka Kabupaten Ngawi ini.
Dalam kegiatan itu, para calon pengurus OSIS diwajibkan berjalan kaki kurang lebih sejauh 15 kilometer pada malam hari satu persatu secara bergantian melewati hutan. Tak hanya itu, setiap peserta diuji di setiap pos yang ada selama perjalanan.
Menurut Bu Tri Wahyuningsih, pembina OSIS, kegiatan samapta itu merupakan puncak rangkaian kegiatan tes CPO (calon pengurus OSIS). ‘’Yang meliputi tes pengetahuan dalam berorganisasi, tes fisik, tes mental, tes kepemimpinan, dan tes tulis,’’ ungkapnya.
Sedangkan panitia penyelenggara, kata Bu Tri, terdiri siswa kelas XII yang telah berpengalaman dalam berorganisasi. ”Sesi refleksi terhadap kekurangan diri sendiri yang paling menarik dalam kegiatan itu,’’ tutur Bu Tri. (*)

1 komentar:

 
Exmud Online © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum