Pages

Selasa, 25 Oktober 2011

SMP Negeri 3 Dolopo Kabupaten Madiun

Diajari Demokrasi sejak Dini
USIA boleh masih belia, tapi anak-anak SMPN 3 Dolopo sudah diajari soal demokrasi. Salah satunya lewat pemilihan ketua OSIS (pilkasis). Pilkasis di SMPN 3 Dolopo, kali terakhir digelar
6 September 2011 lalu. Pilkasis ini pastinya mengedepankan prinsip LUBER (langsung, umum, bebas, rahasia) dan JURDIL (jujur, adil).
Pergantian pengurus OSIS SMPN 3 Dolopo rutin diadakan setiap tahun. Untuk kepengurusan tahun 2011/2012 ini, ada 8 kandidat yang bersaing memperebutkan kursi ketua OSIS. Yaitu: Ferdian, Dhava, Riyani, Rohma, Vriska, Bagus, Yulyawatul, dan Rendi Eko.
Layaknya pemilu pada umumnya, para kandidat juga mengampanyekan visi dan misinya kepada semua warga sekolah. Hal itu dilakukan seminggu sebelum pencontrengan. “Ada empat TPS (tempat pemungutan suara, Red) yang didirikan di kelas. Semua TPS dilengkapi bilik suara tertutup. Meski sederhana, hak pilih para siswa dijamin kerahasiaannya,” tutur Bu Siti Syamsiatun, pembina OSIS.
Tingkat partisipasi pemilih sangat tinggi. Buktinya, hamper semua siswa mengikuti pilkasis ini dengan antusias. Sebelum mencontreng, setiap siswa diberi kartu suara berisi gambar 8 kandidat. “Asyik banget, kayak pemilu betulan,” kata Tyas, siswa kelas VIIIA.
Setelah pencontrengan, kartu suara pun dihitung. Acara penghitungan suara berjalan seru. Akhirnya, terpilihlah Bagus Setiawan sebagai ketua OSIS periode 2011/2012. “Visi saya adalah mewujudkan OSIS SMPN 3 Dolopo yang jujur, adil, amanah, disiplin, serta berorganisasi yang SMART yaitu Sigap, Menarik, Antusias, Rajin dan Teliti,” ungkap Bagus.
“Sedangkan, misi saya adalah melaksanakan kegiatan organisasi dengan baik dan membawa pengurus OSIS SMPN 3 Dolopo menjadi lebih baik berlandaskan IPTEK dan IMTAQ,” lanjut Bagus.
Meski hanya satu yang terpilih, para kandidat lain nggak berkecil hati. Mereka tetap sportif dan mendukung kinerja ketua OSIS terpilih. (*)

Ada Reyog di Ekskul Tari Spentido
SISWA ANTUSIAS
SIAPA yang nggak kenal reyog. Kesenian tradisional asli Ponorogo itu juga diajarkan di ekskul tari SMPN 3 Dolopo, Kabupaten Madiun, lho. Maklum, lokasi sekolah ini ada di kawasan perbatasan Kabupaten Madiun-Ponorogo.
Nah, di dalam pementasan reyog kan pasti ada tarian berupa jatilan dan bujangganong (ganongan). Jatilan merupakan tarian yang dibawakan oleh penari dengan menunggang jaranan (kuda-kudaan). Ada beberapa siswa SMPN 3 Dolopo yang menguasai tarian tersebut. “Menari jatilan nggak sulit kok, asalkan kita mau berlatih serius dan telaten,” ucap Indah, salah satu siswi yang mahir menari jatil.
Sedangkan pada tari bujangganong terdapat sosok Patih Klana Sewandana yang cekatan, jenaka, dan sakti. Sosok ini digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa, hidung panjang, mata melotot, mulut terbuka dengan gigi yang besar, dan rambut lebat. “Seneng banget bisa nari ganong,” ujar Salman, salah satu penari ganong.
Uniknya, penari ganong di SMPN 3 Dolopo ada yang cewek lho. Salah satunya Tunjung. Tentunya, bagi dia, menari ganong merupakan pengalaman yang menarik. ‘’Penari ganong biasanya kan laki-laki, sedangkan aku perempuan. Jadi, itu tantangan buat aku,” kata Tunjung.
Bu Retno , pembina seni tari, mengatakan bahwa seni tari merupakan salah satu andalan SMPN 3 Dolopo. Minat siswanya terhadap dunia seni tari pun sangat tinggi. Mereka juga selalu antusias setiap kali latihan. “Dengan adanya ekskul seni tari diharapkan bakat anak dalam tari akan berkembang,” harap Bu Retno (*)

Jadikan Sabtu sebagai Hari Menulis
SMPN 3 Dolopo (Spentido) Kabupaten Madiun ternyata gudangnya penulis dan jurnalis berbakat. Itu tak lepas dari pembiasaan menulis yang diadakan tiap hari Sabtu. Kegiatan ini dilaksanakan 15 menit sebelum pelajaran dimulai.
Para siswa dikasih waktu buat menulis berupa karangan. Untuk siswa kelas VII dan VIII menulis pengalaman sehari-hari. Jadi, mirip diary gitu deh. Namanya juga semacam diary, pengalaman menyenangkan maupun menyedihkan bisa dituangkan dalam bentuk tulisan yang menarik.
“Menurut saya, pembiasaan menulis itu sangat bagus dan perlu dikembangkan karena merupakan sebuah kreativitas yang harus dilatih secara berjenjang dan sistematis,” Ujar Pak Subroto, kepala sekolah.
Sedangkan siswa kelas IX menulis tanggapan atau pendapat seputar peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan di masyarakat luas. Tujuannya agar mereka bisa mengemukakan pendapat terhadap suatu permasalahan.
Dalam pembiasaan menulis ini ada ketentuannya. Yakni, panjang tulisan minimal satu halaman buku, tulisan harus rapi dan jelas, serta isinya haruslah menarik. “Pembiasaan menulis ini bertujuan melatih siswa dalam menuangkan ide, gagasan, dan pendapat. Melalui pembiasaan ini diharapkan akan muncul penulis-penulis andal,” tutur Pak Adi, guru Bahasa Indonesia.
Kepiawaian menulis dan jurnalistik siswa-siswi SMPN 3 Dolopo dengan mengisi halaman Exmud Radar Madiun, sampai dua kali lagi! “Mengarang itu enjoy banget, seperti melampiaskan sesuatu yang terpendam dalam pikiran. Pembiasaan menulis sangat pas untuk menyalurkan hobby menulisku,” kata Rika Cerly, siswi kelas IXC. (*)

Dangdut-Campursari Oke, Pop Yes
SELAIN penulis, Spentido juga gudangnya musisi berbakat lho. Di sekolah itu, dangdut dan campursari jadi musik favorit. Tapi jangan salah, aliran pop juga juga mampu dibawakan grup musik Spentido.
“Awalnya cukup sulit melatih siswa dan mencari personelnya, tapi berkat kerja keras mereka dapat kompak dan selalu tampil baik dalam setiap acara,” ungkap Pak Bambang, pembina ekskul seni musik.
Penasaran siapa aja personel Spenmtido Band? Mereka antara lain: Gadan, Aldi Prasetya, Nanda Aji, Ferry, Sumiana, dan Maya Ariska. Selain tampil di sekolah, mereka pernah didapuk Kecamatan Dolopo untuk mengisi acara Pujapo (Pusat Jajanan Dolopo) saat HUT RI ke-66 dan Hari Jadi Kabupaten Madiun ke-143. “Demam panggung itu pasti. Kadang juga minder dan takut kalo gak bisa tampil maksimal dalam setiap perform,” ujar Maya, salah satu penyanyi grup ini.
Band Spentido juga pernah tampil dalam acara Karnaval Parade Budaya dalam rangka HUT RI ke-66. Mereka tampil secara live dan mendapat aplaus para penonton. “ Hebat dan menghibur. Penampilannya selalu ditunggu-tunggu masyarakat,” kata Darmadi, salah seorang warga sekitar. (*)


Siswa SMPN 3 Dolopo Ciptakan Senam Kreasi

Musiknya yang Lagi Hits,
Pikiran Pun Jadi Happy

Melakukan senam itu sudah biasa. Tapi kalau menciptakan gerakan senam baru, itu luar biasa. Melalui pembiasaan senam, pelajar SMPN 3 Dolopo dituntut mampu bikin senam kreasi. Bagaimana komentar siswa?
----------
DI DALAM badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ungkapan ini tampaknya dipahami betul oleh siswa SMPN 3 Dolopo. Setiap Jumat pagi, mereka mengikuti kegiatan senam. Ada Senam Pramuka, ada juga Senam Pencak Silat.
Menariknya, agar siswa tak mengatasi kejenuhan dengan senam yang itu-itu saja, sekolah setiap semester mengadakan lomba senam kreasi. Dalam lomba ini, siswa dituntut menciptakan dan mengkreasikan jenis senam baru dengan durasi minimal 5 menit. “Senam kreasi dan pembiasaan senam ini terus dikembangkan untuk menunjang kesehatan dan merefresh otak anak-anak,” ujar Pak Suryadi, guru olahraga.
Hasil dari pembiasaan senam ini ternyata tidak mengecewakan lho. Tercipta gerakan-gerakan senam yang unik dan mudah diikuti. Apalagi didukung dengan iringan musik dan lagu yang sedang hits saat ini. Pokoknya, asyik dan enjoy banget buat senam pagi. “Dulu aku benci sekali dengan senam. Soalnya lagunya jadul dan monoton. Sekarang nggak lagi, soalnya gerakan dan lagunya bikin happy,” ungkap Deny, siswi kelas IXB.
Senam kreasi ciptaan siswa-siswi SMPN 3 Dolopo ini setiap Jumat akan ditampilkan secara bergantian. Instruktur senamnya tentu saja siswa sendiri. Keren kan? Ayo, olah raga senam! (*)

Ompreng yang Berjasa
BANYAK cara dilakukan anak-anak SMPN 3 Dolopo agar nggak terlambat ke sekolah. Salah satunya dengan naik ompreng, alat transportasi khas Dolopo-Ngebel berupa mobil pikap yang diberi penutup.
SMP yang terletak di Jalan Raya Suluk ini, memang siswanya tak hanya dari daerah Suluk, Dolopo, dan sekitarnya, akan tetapi juga Ngebel, Ponorogo. “Aku berangkat dari rumah jam 05.30, lalu jalan kaki sejauh dua kilo menuju jalan raya yang merupakan jalur ompreng. Sampai jalur ompreng jam 06.00 dan tiba di sekolah jam 06.30,’’ kata Linda, siswi asal Ngebel.
Untuk naik ompreng, siswa harus merogoh saku Rp 3.000 pulang pergi. “Saya sangat bangga. Anak-anak punya semangat tinggi. Presentasi keterlambatan hampir nol persen,’’ puji Pak Subroto, kepala sekolah. (*)

CREW LIPUTAN:

1 komentar:

 
Exmud Online © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum