Pages

Senin, 11 Juli 2011

STKIP PGRI Ponorogo


Ogah Ketinggalan Konsep Pendidikan
STKIP PGRI Ponorogo merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di Ponorogo. Dalam usianya yang panjang itu, pengalaman di dunia pendidikan sudah terbilang matang, terutama dalam mencetak tenaga pendidik profesional.
Nah, terkait upaya mencetak tenaga pendidik andal, STIKIP punya terobosan menarik. Perguruan tinggi tersebut sengaja mendirikan Labschool. Kali pertama berdiri pada 2002, didirikan SMP. Kemudian, pada 2007 merambah SD dan SMA. Untuk jenjang SD dan SMA, masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan SD Immersion. Sedangkan SMP-nya SMP Terpadu.
Labschool tidak saja menjadi pilihan bagi para guru di Ponorogo, tetapi juga sebagai tempat mengasah ilmu mahasiswa STIKIP PGRI. Mereka dapat mengaplikasikan metode, strategi, maupun teknik pengajaran yang bersifat dinamis dan berbeda dengan sekolah-sekolah lain. ”Labschool ini memang didesain untuk membina calon guru dan guru untuk menguasai konsep pendidikan yang terus berkembang.” kata Dolar Yuwono, Direktur Labschool.
Sentuhan mahasiswa STIKIP maupun guru mampu mengantar SD, SMP, maupun SMA binaan Labschool menjadi sekolah yang diperhitungkan di Kota Reyog. Beberapa siswanya pun telah berhasil menorehkan prestasi gemilang, baik di Ponorogo, eks Karesidenan Madiun, bahkan tingkat nasional.
SMA Immersion misalnya, siswanya pernah meraih juara I dan III sayembara cerpen tingkat nasional. Prestasi gurunya tak kalah moncer. Salah satunya, Pak Suyud. Dia telah 4 kali mendapatkan medali emas bidang pengembangan materi pembelajaran berbasis teknologi informasi.
SD Immersion tak mau kalah. Beberapa guru sekolah itu, di antaranya Bu Ririen dan Bu Yoni, sempat menyabet juara II dan harapan sayembara menulis buku anak tingkat nasional 2008. Bahkan, Bu Peni, kepala sekolah, sudah 6 kali memenangkan kepenulisan tingkat nasional dan 9 kali tingkat provinsi. Sedangkan tahun 2010, giliran Bu Hana yang memenangi lomba penulisan buku bacaan tingkat provinsi.
Labschool yang ada di lembaga ini, bagi saya sangat positif . Karena mahasiswa secara mendapat pengalaman mengajar langsung di sekolah rintisan kampusnya sendiri,” kata salah satu mahasiswa STIKIP.
Bagaimana dengan siswa? Bima, salah satu murid SD Immersion, mengaku enjoy menuntut ilmu di sekolahnya. ”Soalnya, di sini (SD Immersion, Red) belajarnya sambil bermain,'' ujar bocah itu.
Ya, pembelajaran di Labschool memang variatif. Siswa tidak hanya menerima materi pelajaran melalui tatap muka di kelas, tapi juga secara outdoor seperti dalam kegiatan fieldtrip dan outbond. (*)


Selalu Kedepankan Komunikasi
SEOLAH tancap gas, Pak Kasnadi yang terbilang belum lama menahkodai STKIP PGRI Ponorogo, langsung melakukan sejumlah gebrakan. Aroma perubahan pun terasa di lingkungan kampus di Jalan Ukel itu. Terutama terkait tata kelola administrasi dan kemahasiswaan.
Terobosan Pak Kasnadi berbuah manis. Tahun ini, STKIP PGRI Ponorogo meraih penghargaan dari Depdiknas sebagai perguruan tinggi non universitas berprestasi bidang kelembagaan dan tata kelola kemahasiswaan.
''Komunikasi yang baik antar komponen dalam perguruan tinggi, termasuk dengan mahasiswa,'' beber Pak Kasnadi mengungkapkan salah satu kiat suksesnya memimpin STKIP PGRI Ponorogo hingga mampu berprestasi di tingkat nasional.
Selain sebagai dosen, Pak Kasnadi adalah seorang penulis andal. Bahkan, dia pernah menjadi jawara Lomba Mengulas Karya Sastra (LKMS) tingkat nasional 2003. Berbagai tulisannya pun mewarnai media lokal maupun nasional seperti Jawa Pos. Bersama Pak Sutejo, sahabatnya, Pak Kasnadi telah melahirkan belasan buku yang tidak saja jadi pegangan para mahasiswanya, tetapi juga acuan beberapa perguruan tinggi di Jawa Timur dan Jawa Tengah. (*)

Bersaing dengan Wakil PTN-PTS Ternama

Tim Debat Bahasa Inggris
Lolos NUEDC Nasional
STKIP PGRI Ponorogo ternyata punya tim debat bahasa Inggris yang patut diperhitungkan. Di ajang National University English Debate Championship (NUEDC) regional Jatim, tim STKIP PGRI masuk 7 besar.
Atas hasil itu tim debat bahasa Inggris STKIP PGRI Ponorogo yang terdiri Melindha Susila Rini, Junia Purwati, dan Erika Nova A, berhak maju ke ajang yang sama tingkat nasional. ‘’Untuk seleksi regional Jatim lombanya 18-19 Mei 2011 di Malang,’’ ujar Melindha.
Keberhasilan ‘Three Angels’ asal STKIP PGRI Ponorogo lolos NUEDC tingkat nasional tak pelak disambut suka cita. Maklum, mereka mampu menyisihkan puluhan tim dari PTN dan PTS ternama di Jawa Timur yang difavoritkan di ajang itu. “Dari lomba itu kami dapat pengalaman baru yang  mengesankan,” katanya.
Pada 21-26 Juni 2011, Melindha, Junia dan Erika bertolak ke Semarang untuk kembali bersaing  dengan PTN dan PTS seluruh Indonesia. Termasuk melawan tim dari Universitas Indonesia, Satyawacana Salatiga, Undip Semarang, dan Atmajaya Jakarta. 
Meski gagal juara, Malindha cs tetapi bangga karena setidaknya mampu membuktikan bisa bersaing dengan para peserta yang sudah teruji di ajang tingkat nasional. Bahkan, tim dari kampus di Jalan Ukel Ponorogo itu tercatat satu-satunya STKIP PGRI yang lolos NUEDC tingkat nasional. ‘’Pastinya keberhasilan ini tak lepas dari dukungan pihak kampus, para dosen pembimbing, dan teman-teman,’’ ujarnya. (*)


Undang Kritikus Sastra dari UI

Ratusan Pelajar Ikuti
Lomba Kepenulisan
UNTUK kesekian kalinya, STKIP PGRI Ponorogo mengadakan kegiatan berbasis kepenulisan. Pada 15 Mei 2011 lalu, Perhimpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia (PEMBAHAS) STKIP menggelar lomba kepenulisan. Lomba bertajuk Sayembara Cipta Karya Puisi, Cerpen, dan Artikel 2011 itu diikuti ratusan pelajar SMA/MA se-eks Karesidenan Madiun. Kegiatan kali ini mengusung tema Potret Budaya Masa Kini.
Kegiatan yang merupakan rangkaian Dies Natalis STKIP PGRI Ponorogo ke-35 itu menghadirkan juri praktisi di bidangnya. Yakni, Pak Beni Setia, Pak Aming Aminoedhin, dan Pak Sutejo.  “Kegiatan ini sebagai wadah berkompetisi dan berkreasi bagi pelajar di bidang kepenulisan,'' ungkap Nur Wachid, ketua panitia.
Menurut Nur Wachid, total karya yang masuk sebanyak 129. Dari jumlah itu, 126 lolos seleksi administrasi. Kemudian, diambil 10 karya terbaik masing-masing kategori. Pada 26 Juni 2011, para nominator diwajibkan mempertanggungjawabkan orisinalitas karyanya  di depan para juri.
Sebagai  puncak kegiatan ini, pada 10 Juli lalu digelar Ngaji Sastra dan Kepenulisan yang menghadirkan Maman S. Mahayana. Dia adalah kritikus sastra dari Universitas Indonesia (UI) yang selama dua tahun terakhir menjadi dosen tamu di Korea Selatan. ''Kehadiran Pak Maman tak lepas dari peran dosen dan alumni STKIP yang getol di bidang kepenulisan tingkat nasional,'' urainya.
Sayembara kepenulisan ini mendapat apresiasi positif Ketua STKIP PGRI Ponorogo Pak Kasnadi. “Kepada para pemenang, teruslah berkarya dan sukses di masa depan dengan kepenulisan. Seluruh peserta yang tidak masuk 10 finalis akan mendapatkan bimbingan dan pelatihan menulis langsung dari STKIP PGRI Ponorogo tanpa dipungut biaya dalam waktu dekat,” tuturnya. (*)

Kreativitas Antar Indri Masruroh Jadi Pemuda Pelopor Nasional

Pernah Diundang
 Jadi Narasumber
Acara di Sulawesi Utara

Kreativitas Indri Masruroh membuat alat peraga dan permainan edukatif berbuah penghargaan bergengsi. Mahasiswi semester VI STKIP PGRI Ponorogo itu tahun lalu dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional bidang pendidikan. Bagaimana ceritanya?
_________

TIGA tahun terakhir Indri Masruroh mengabdikan diri sebagai guru TK di Desa Plancungan, Kecamatan Balong, Ponorogo. Indri yang biasa melihat limbah seperti jerami, kardus, ampas kelapa dan sebagainya, menggelitik benaknya untuk memanfaatkan bahan-bahan itu.
Jadilah berbagai alat peraga dan permainan edukatif telah dia ciptakan. Di antaranya, alat hitung dari janggel jagung dan huruf dari ampas kelapa. Juga puzzle dan topeng kreasi dari kardus bekas. Dia juga menciptakan rumput pintar, pohon pintar, gerobak mimpi, sibotung, kereta disiplin, kostum tari dari jerami, dan sebagainya. ‘’Alat peraga dan permainan ini sangat membantu proses belajar anak-anak, di samping menghemat biaya operasional pembelajaran di sekolah,’’ ujar Indri.
Kreasinya itu secara tidak langsung juga ikut mengurangi kerusakan alam, terutama pencemaran tanah. ‘’Berkat alat peraga dan permainan edukatif itu anak-anak sering menjuarai berbagai lomba dan lebih aktif dalam kegiatan berlajar mengajar,’’ ungkapnya.
‘’Dalam proses pembuatannya, kami juga melibatkan anak-anak. Saya juga banyak dibantu oleh teman-teman guru lain dan juga wali murid serta warga desa,’’ imbuh anak ketujuh dari delapan bersaudara ini.
Berkat kreativitasnya mengolah bahan limbah dan barang bekas itu pula tahun lalu Indri menyabet penghargaan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional bidang pendidikan. Sejak itu, dia sering diminta menjadi narasumber di beberapa acara, baik di Ponorogo maupun luar kota. Pertengahan Maret lalu misalnya, Indri menjadi narasumber acara bertajuk Get Inspired! di Universitas Haluoleo Kendari, Sulawesi Utara, yang diprakarsai BBC Indonesia dan Detikcom.
Tak jarang pula dia diundang menjadi juri berbagai lomba dan mengisi pelatihan. “Pintar nggak harus mahal. Bakat belum tentu, kreativitas itu lebih penting. Selain itu, tinggal bagaimana niat dan ketekunan untuk melakukan yang terbaik,” tuturnya. (*)


 Pusat Gurunya Manusia 
Dies  Natalis STKIP PGRI Ponorogo ke-35 dirayakan besar-besaran. Beberapa kegiatan besar seperti Rover Ranger Challenge (RRC), diklat jurnalistik, sayembara cipta karya,  English Debate Contest, serta jalan santai mewarnai 35 tahun berdirinya kampus di Jalan Ukel ini.
Sebagai puncak acara 11 Juni 2011, diadakan seminar nasional yang  mengundang dua  pakar pendidikan yaitu Munif Chotib dan Dolar Yuwono. Sekitar 900 peserta yang berasal dari Ponorogo dan sekitarnya mengikuti seminar yang dibuka Ketua STKIP PGRI Pak Kasnadi dan mengundang keynote speaker Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ponorogo Pak Dwikorahadi Meinanda ini. ’’Pembelajaran satu teknik atau satu metode saja tidak cukup untuk  membelajarkan semua,’’ terang Pak Dolar Yuwono, lewat makalah yang berjudul One Size doesn’t Fit All.
Sedangkan pakar multiple intellegences sekaligus penulis buku-buku best seller Munif Chatib mengatakan bahwa semua anak pada dasarnya cerdas. ’’Anak yang cerdas adalah anak yang kreatif yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri,’’ tuturnya.
Sementara Pak Kasnadi berharap, ke depan kampus yang dipimpinnya akan menjadi pusat gurunya manusia yang mendidik dengan hati. Juga membentuk figur guru yang memiliki kompetensi dan profesionalitas dalam menekuni bidang pendidikan. (*)

Crew liputan:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 
Exmud Online © 2011 | Designed by RumahDijual, in collaboration with Online Casino, Uncharted 3 and MW3 Forum